Pengakuan seorang Mantan Dealer/ Trader di Bank

Saya seorang Mantan Dealer dan sekarang adalah Trader. Saya sendiri tidak pernah bermimpi untuk menggeluti profesi ini. Semuanya datang begitu saja. Mulai dari menjadi Personal Banking Officer sampai menjadi Dealer (trader di bank). Saya seorang yang ambisius.
Sejak kuliah, saya harus menjadi orang yang paling hebat. IPK harus paling tinggi, S1 dan S2 saya adalah lulusan terbaik. Saya pikir, bukan karena saya pintar, tetapi karena saya memang terkena ambisius.

Saya dididik sebagai seorang dealer bank. TUGAS UTAMA SAYA ADALAH MELAKUKAN TRANSAKSI dan investor atau trader retail adalah lawan saya. Atau dengan kata lain, ilmu yang saya miliki adalah bagaimana caranya agar trader retail rugi dan perusahaan saya untung.
ITULAH TUGAS KAMI SEBAGAI SEORANG DEALER. NASABAH/INVESTOR ADALAH LAWAN BUKAN KAWAN. KAMI TAMPAK BERSAHABAT BAGI NASABAH/INVESTOR. TETAPI SEBENARNYA KAMI ADALAH LAWAN YANG BUAS.

Harus saya akui, trader retail adalah lawan yang mudah. Mereka miskin informasi, mereka miskin analisa, mereka bertindak dengan “feeling”. Dan anehnya, mereka bangga dengan itu. semua. Apa yang saya katakana tidak mengada-ada. Coba kalian ihat rekan-rekan trader anda masing-masing yang menggeluti dunia forex ini. Perhatikan mereka, mereka sangat lugu, namun keras kepala. Itu adalah “santapan” paling nikmat untuk broker ataupun dealer.

Brbekal dari pengalaman saya pribadi sebagai mantan dealer, saya melihat bahwa jurang antara dealer dan trader retail sangat besar. Trader retail kalah di segala lini. Kemampuan analisia minim, informasi minim, pengetahuan minim. Intinya segalanya minim. Dan yang paling menyedihkan, meskipun para trader retail itu minim kemampuan dan informasi, tetapi mereka nekat.
Seorang dealer akan “dipersenjatai” dengan teknologi informasi yang canggih. Mulai dari reuters ataupun dari terminal Bloomberg. Dan semuanya memiliki biaya operasional yang tinggi tiap bulannya. Selain itu, mereka sudah dilengkapi dengan serangkaian pengetahuan analisa yang memadai. Sedangkan trader retail? Mereka asik melihat chart. Menarik-narik garis dari atas ke bawah. Kalau kurang bagus tarik garis dari samping kanan atas ke kiri bawah. Lalu selanjutnya mereka bingung sendiri.
SEORANG TRADER RETAIL SEBENARNYA TIDAK JAUH BEDA DENGAN SEORANG DEALER, BIDANGNYA ADALAH SAMA. Karena itu, kalau kalian tidak lebih hebat dari mereka, atau setidak-tidaknya punya kemampuan yang berimbang dengan mereka, jangan harap kalian survive di bidang ini.

PERLU SAYA LURUSKAN DISINI ADALAH PENGERTIAN SOAL “TRANSAKSI DI LEMPAR KE PASAR”. Banyak orang yang menganggap bahwa kalau kita open posisi, maka transaksi kita akan dilempar ke pasar. Pertanyaannya, pasar yang mana? Dengan tingkat akusisi yang memiliki tempo waktu yang sangat cepat (transaksi kita diakuisi dalam hitungan satu detik), tentunya tidak semua transaksi kita akan berhadapan dengan trader retail lain. Jumlahnya sangat sedikit. Karena dalam hitungan detik, transaksi kita harus “match”.
Jadi, sebenarnya sistem transaksi forex berbeda dengan saham. Lalu kemana transaksi kita? Jawabannya adalah DEALER. Mulai dari delaer kecil (para calo keuangan), merchant, maupun sampai ke dealer besar (bank). Karena itulah transaksi di forex lebih dikenal dengan metode off-exchange.

Saya akan copy persyaratan menjadi deaer bank. Disitu kalian akan melihat bagaimana syarat-syarat menjadi seorang dealer. INI HANYA SEKEDAR MENAMBAH WAWASAN KALIAN AGAR KALIAN TAHU BAHWA SEORANG DEALER ADALAH LAWAN YANG TANGGUH.

Dealing Room adalah suatu ruangan kerja yang khusus oleh Divisi Treasury digunakan untuk melaksanakan transaksi-transaksi, terdiri dari transaksi di pasar uang/money market, pasar valuta asing/foreign exchange market maupun transaksi-transaksi surat berharga jangka panjang/capital market serta transaksi turunannya/derivatives.
Dealing Room merupakan restricted area mengingat jenis, jumlah transaksi yang besar serta data-data transaksi yang sensitive terhadap kondisi bank dan counterparty sehingga tidak memberi keleluasaan bagi yang tidak berkepentingan untuk memasuki ruangan ini.

Dealing Room, secara fisik, merupakan ruangan dengan sarana pendukung berteknologi informasi yang canggih dan siap dioperasikan 24 jam sehari, mempunyai sistem komunikasi untuk transaksi yang dapat menjangkau counterparty (pihak lawan) domestik maupun internasional setiap saat sehingga memerlukan sarana pelengkap dan sistem pengaman yang baik dan handal.

Untuk menjadi seorang dealer diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
Mampu bekerja under pressure
Kuat dalam hitungan
Memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang memadai
Memiliki kemampuan analisa yang baik
Berani mengambil keputusan
Memiki kemampuan berbicara dan mendengar yang baik

Untuk menjadi dealer ada beberapa tahapan tes yang mesti dilalui :
1. Tes Potensi Akademik (TPA)
2. Tes Kemampuan bahasa Inggris
3. Psikotes
4. Tes Kesehatan
5. Wawancara akhir
Setelah dinyatakan lulus tes maka calon dealer akan mengikuti pelatihan mengenai masalah ekonomi, analisa kondisi keuangan makro dan mikro (fundamental analisis), teknikal analisis (charting, trend pergerakan harga, dll), peraturan Bank Sentral, bisnis tresuri baik Money market, Capital Market, Forex, derivatives, Aset Liability Management (ALMA) dan kegiatan Tresuri lain secara keseluruhan .Selain itu dilakukan simulasi trading dalam bourse game untuk melatih kemampuan calon dealer dalam bertransaksi. Dalam bourse game seluruh aktifitas transaksi yang dilakukan sama dengan transaksi real, yang membedakan hanyalah transaksinya tidak dengan counterparty langsung namun dengan moderator yang berperan sebagai counterparty.

Adanya Dealing Room bertujuan untuk :
Menjaga likuiditas bank
Memberikan pelayanan kepada nasabah (counterparty)
Meningkatkan pendapatan bank dari aktifitas Tresuri

Fungsi business unit yang ada di Dealing Room meliputi :
1. Pasar Uang (Money Market)
a. Mengelola likuiditas bank sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia
b. Mengelola kelebihan dana bank untuk ditempatkan ke instrument pasar uang dengan mencari harga terbaik di pasar, baik instrument call money maupun SBI dan SBI outright
c. Melakukan trading melalui strategi arbitrage (memperoleh laba tanpa resiko dengan memanfaatkan perbedaan rate) dan gapping (memperoleh laba dengan memanfaatkan perbedaan rate dan jangka waktu) untuk mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkanpergerakan suku bunga di pasar.
Transaksi Money Market ini dilakukan dalam rangka menjaga likuiditas dan menghasilkan keuntungan bagi bank. Menjaga likuiditas dilakukan dengan menempatkan kembali kelebihan dana sendiri ke bank-bank lain dan instrumen-instrumen keuangan dari Bank Indonesia (BI) seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Fine Tune Konstraksi (FTK), Fine Tune Ekspansi (FTE), Fasilitas Bank Indonesia (FASBI) dengan tingkat bunga tertentu. Sedangkan untuk menghasilkan keuntungan bagi bank adalah dengan melakukan trading dengan melakukan borrow (pinjam) dari bank lain dan ditempatkan ke bank lain atau instrumen BI dengan tingkat bunga yang lebih menguntungkan.

2. Pasar Modal (Capital Market)/Fixed Income
a. Melakukan jual beli surat berharga untuk memperoleh keuntungan (capital gain, exchange gain dan coupon) dengan memanfaatkan pergerakan harga surat berharga di pasar.
b. Membeli surat berharga sebagai alternatif diversifikasi portofolio bagi bank
c. Mengelola kelebihan dana bank untuk ditempatkan ke instrument pasar modal dengan mencari harga terbaik di pasar.
Transaksi Fixed Income ini seperti halnya transaksi Money Market juga dilakukan dalam rangka menjaga likuiditas dan menghasillkan keuntungan bagi bank.

3. Pasar Valuta Asing (Foreign Exchange Market)
a. Mengelola Net Open Position / Posisi Devisa Netto bank sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia
b. Melakukan jual beli mata uang guna meng-cover posisi bank, baik untuk keperluan banking book maupun trading book.
c. Melakukan trading dengan memanfaatkan pergerakan kurs di pasar untuk mendapatkan keuntungan baik transaksi antar bank maupun dengan nasabah.

Dalam melaksanakan aktifitasnya di Dealing Room, dealer menggunakan alat bantu seperti :
– Reuters News
– Reuters Dealing System
– Bloomberg
– Dealing Phone
– OPICS Treasury Systems
Tujuan adanya alat bantu ini adalah untuk memudahkan dealer dalam berkomunikasi dan bertransaksi dengan counterparty serta alat tersebut juga digunakan dealer dalam membantu pengambilan keputusan dengan menggunakan data historis, trend serta indikator-indikator perekonomian lainnya. Akurasi data yang dihasilkan secara online lebih tinggi karena akses data dilakukan secara real time.

Incoming search terms:

  • dealer income adalah
  • trading bank

Dapatkan Update BELAJAR FOREX melalui Email:

5 thoughts on “Pengakuan seorang Mantan Dealer/ Trader di Bank”

  1. tempat berita forex terbaru says:

    infonya daging gan…joss banget….izin publish di website sya ya gan..

  2. kayla says:

    pengen nanya gan, klo di indo ada org yg jago banget trading ga yah?

  3. bianca says:

    mau tanya dong, di indonesia ada yang jago trading forex ga yah?

  4. Rinto says:

    Ijin share

    1. Mantan dealer spd mtr says:

      Pengakuan mantan trader bank ini sdh lama di posting. Tapi utk nambah wawasan kita, dan agar infonya tdk sepihak, ada bbrp hal yg blm jelas diungkapkan. Misal trader bank (di ruang dealing room) trading lawan trader kecil, yg secara probabilitas tdk bisa profit. Setahu saya (di Indonesia) tdk ada dealer bank yg trading lawan nasabahnya/trader kecil. Coba di bank mana? Memang ada ketentuan BI atau OJK yg bolehkan bank trading spt itu? Tdk ada!. Lawan dealer bank maupun para trader ya dgn bursa forex, tergantung market mana yg buka pd saat trading (dia trading forex di web zone mana). Itu tambahan info dr saya. Tks.

Leave a Reply

Belajar Dasar Forex

Anda mungkin juga ingin membacaclose