Bagaimana Peluang Profit di BREXIT 2016?

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Uni Eropa, dibahas keinginan Inggris untuk melakukan referendum demi menentukan apakah Inggris akan keluar dari Uni Eropa (istilahnya Brexit) atau tetap menjadi bagian dari Uni Eropa. PM Inggris David Cameron sendiri sejatinya menginginkan Inggris tetap dalam Uni Eropa. Namun, di pemilu Mei 2015, Partai Konservatif yang dipimpin PM David Cameron sempat terdesak akibat naiknya oposisi yang mendukung Brexit, sehingga ia terpaksa menjanjikan akan mengadakan referendum Brexit paling lambat tahun 2017 pada konstituennya.
Tanggal referendum telah ditetapkan 23 Juni 2016. Banyak pihak yang cukup terkejut juga bahwa Inggris benarbenar berniat melakukan referendum meninggalkan atau tetap di dalam Uni Eropa.

Brexit adalah sebuah singkatan yang mereferensi kepada peluang keluarnya Inggris (British exit) dari Uni Eropa. Kata ini hampir mirip dengan Grexit yang beberapa tahun lalu populer akibat peluang Yunani (Greece) keluar dari Uni Eropa terbuka lebar.
Uni Eropa adalah sebuah blok yang terdiri dari 28 negara yang bukan merupakan sebuah negara, tapi lebih jauh dari sekadar zona perdagangan bebas. Kelompok ini berkontribusi sebesar USD18 ribu dengan populasi sebanyak 500 juta penduduk, ini adalah perekonomian terbesar di dunia.

Lebih dari setengah abad, kelompok ini membentuk lembaga yang berpengaruh, seperti Komisi Eropa, hingga Parlemen Eropa, European of Justice yang kemudian berubah menjadi European Council.
Jerman menjadi negara paling berkuasa di Uni Eropa. Kanselir Jerman Angela Merkel pemimpin paling berkuasa di blok ini.

Argumen Pro-Kontra BREXIT 2016

Anggota parlemen asal kubu konservatif, John Redwood mengatakan, Inggris akan mendapatkan keuntungan yang lebih nyata. “Defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan akan turun 20 persen, dengan keluarnya dari Uni Eropa. Inggris bisa membuat undang-undang sendiri, merebut kembali regulasi untuk mengontrol imigrasi dan perbatasan kebijakan, dan kembali eksis dalam lembaga internasional, seperti WTO.”
Sementara Chief Economic FT, Martin Wolf memiliki pandangan sendiri. “Inggris dengan penduduk kurang dari 1 persen penduduk dunia, dan dengan output sebesar 3 persen, bisa lebih berperan dengan keluar dari Uni Eropa,” kata dia.

Bagaimana Efek dari BREXIT?
Sejumlah ekonom memandang, aksi keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan buruk untuk prospek ekonomi Inggris. Pada polling yang dilakukan FT, lebih dari 100 orang ekonomi berpikir jika Brexit tidak akan menumbuhkan ekonomi Inggris.
Mata uang Inggris Raya, GBP Poundsterling sedang mengalami penurunan terpanjangnya sejak akhir tahun lalu yang dipengaruhi oleh spekulasi keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa atau Brexit. Penurunan sterling diawal sejak awal tahun ini memang tidak hanya disebabkan oleh isu Brexit saja, tetapi karena prospek mundurnya waktu kenaikan suku bunga BOE pada tahun ini.

Prospek ekonomi Inggris jangka menengah, selama tiga kuartal pasca-Inggris keluar dari Uni Eropa akan membuat outlook ekonomi berbahaya. Hanya 8 persen yang berpendapat jika ekonomi Inggris akan membaik pasca-keluar dari Uni Eropa. Sementara kurang dari 20 persen koresponden menyatakan Brexit akan membuat perubahan.
Namun bila Inggris tidak terikat lagi secara hukum dengan Uni Eropa, investasi yang dilakukan di Inggris akan menjadi berat apabila berharap masuk ke negara-negara anggota Uni Eropa lainnya. Dengan kata lain, hubungan kita dengan Inggris tidak lagi dapat menjadi batu loncatan untuk masuk ke satu pasar Eropa.

Analisis menunjukkan bahwa jumlah mereka yang pro untuk keluar Uni Eropa kini relatif sama kuatnya dengan mereka yang ingin bertahan dalam Uni Eropa. Hal ini memunculkan ketidakpastian yang berimbas pada melemahnya poundsterling. Situasi ini berbeda dengan tahun lalu ketika ide referendum ini pertama terlontar dari PM Inggris David Cameron.

Profit Brexit
Bagaimana Prediksi Mendapatkan Profit BREXIT?

Nilai tukar mata uang Inggris (GBP) kemungkinan akan hilang sebanyak seperlima atau melemah sebanyak 20% jika memilih untuk meninggalkan Uni Eropa pada tanggal 23 Juni, memicu tekanan inflasi yang kuat dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
National Institute of Economic dan Social Research memprediksikan penurunan tajam pada nilai tukar sterling dan kenaikan tajam pada laju inflasi yang akan melukai daya beli para pekerja. Laju inflasi di tahun 2017 dapat naik sebanyak 3.8% dari semestinya jika Inggris memilih bertahan dalam Uni Eropa, sementara perekonomian akan berkontraksi sebesar 1% di tahun 2017 dan 2.3% di tahun 2018.
Meningkatnya resiko dan ketidakpastian akan membuat sterling terdepresiasi sekitar 20% dalam waktu dekat pasca hasil referendum dirilis, yang mana akan memicu tekanan naik inflasi yang cukup kuat.

Bagaimana prediksi anda terhadap hasil BREXIT nanti?

Dapatkan Update BELAJAR FOREX melalui Email:

Leave a Reply

Belajar Dasar Forex

Anda mungkin juga ingin membacaclose