Bagaimana Memainkan Break Dengan Pivot Poin

Pivot poin memang dapat digunakan untuk range trading, namun tidak selamanya. Ada saatnya di mana level pivot poin gagal untuk bertahan dan pada saat inilah kita perlu untuk siap sedia dengan beberapa peralatan trading, yang akan mampu mengatasi masalah pada situasi semacam ini.

Ada dua cara utama untuk trade breakout yakni: cara agresif atau cara aman.

Kedua cara tersebut akan bekerja dengan baik, sesuai dengan karakterisktik kita sebagai trader. Hanya saja perlu kita ingat, apabila memilih cara aman, yang artinya kita menunggu harga menguji level support atau resistance, ada kemungkinan kita akan melewatkan pergerakan awal.

Perhatikan grafik EUR/USD dengan time-frame 15-menit berikut, untuk mengamati trade breakout menggunakan pivot poin.

gbr.memainkan.break.dgpivot.poin

Pada grafik tersebut kita dapat melihat EUR/USD menciptakan reli yang kuat. Pair tersebut dibuka dengan sebuah celah di atas pivot poin. Harga menciptakan pergerakan ke atas yang kuat, sebelum kemudian berhenti sejenak di level R1. Tak lama, resistance tertembus dan pair mata uang tersebut melompat sejauh 50 pips!

Apabila tergolong trader agresif yang perlu kita lakukan adalah menangkap pergerakan awal dan merayakan kemenangan. Sebaliknya, apabila cenderung memiliki karakteristik trader yang mencari aman dan menunggu retest dari pergerakan harga atas level resistance, kita akan menjadi seorang trader awam yang menyedihkan. Sebab harga tidak melakukan retest setelah menembus level R1. Dan hal serupa terjadi pada level R2!

Perhatikan bagaimana bulls EUR/USD juga berusaha bergerak menuju level R3.

Meski menggiurkan, namun bila menggunakan metode agresif, kita akan terjebak. Hal ini karena harga gagal mempertahankan pergerakannya dan menembus level R3. Apabila order “stop” kita terlalu rapat, maka trading kita akan diberhentikan pada saat itu juga.

Namun apa yang terjadi kemudian akan mengejutkan kita, ternyata harga berhasil tembus level R3. Perhatikan bagaimana retest juga terjadi pada garis resistance yang tertembus. Amati bagaimana pair ini lalu berbalik, bergerak menembus dan melewati R3. Pada saat itu juga tercipta kesempatan untuk trading dengan short-position ketika terjadi retest pada level resistance-yang-berubah-menjadi-support dan kembali-berubah-menjadi-resistance.

Ingat, pada saat level support tertembus, biasanya level tersebut akan berubah menjadi level resistance.

Konsep “role reversal” atau pergantian peran ini juga terjadi pada level resistance yang tertembus dan menjadi level support. Ini adalah saat di mana kita bersikap bijak dan mengambil keputusan bermain aman.

Menempatkan Order Stop dan Target dengan Breakout
Salah satu kesulitan dalam menggunakan teknik trading breakout adalah menentukan posisi untuk menempatkan order “stop”. Tidak seperti trading range di mana kita mencari break atas pivot poin pada level support dan resistance, yang kita cari adalah pergerakan harga yang kuat dan cepat.

Begitu sebuah level tertembus, secara teori, kemungkinan besar level tersebut menjadi support-yang-berubah-jadi-resistance. Apabila mengambil long-position dan harga menembus R1, kita dapat menempatkan stop tepat di bawah R1.

Perhatikan grafik EUR/USD berikut ini untuk melihat di mana kita dapat menempatkan order stop dan meraup keuntungan.

gbr.memainkan.break.dgpivot.poin.2

Pada contoh kali ini, begitu melihat harga menembus level R1, kita perlu untuk menempatkan stop tepat di bawah R1. Apabila yakin harga akan terus bergerak ke atas, kita perlu terus berada di posisi kita dan menggerakkan stop secara manual untuk melihat apakah ada kemungkinan pergerakkan harga terus berlanjut. Kita perlu terus mengamati grafik dengan teliti dan terus menempatkan stop sesuai dengan pergerakan harga.

Sementara itu, apabila kita menggunakan metode atau indikator lainnya, faktor yang mesti diperhatikan adalah risiko menggunakan trading breakout.

Pertama-tama, kita tidak akan pernah tahu apakah pergerakan harga akan berlanjut atau tidak. Bisa saja kita berpikir harga akan terus naik, namun yang tertangkap adalah puncak (top) atau bagian bawah (bottom) dari pergerakan harga, yang artinya kita telah tertipu.

Kedua, kita tidak pernah bisa yakin apabila yang terjadi adalah breakout yang sebenarnya, atau pergerakan liar yang terjadi akibat rilis berita penting. Lonjakan pada gerakan volatil adalah peristiwa umum yang selalu terjadi setiap kali berita dirilis, jadi pastikan untuk terus memperhatikan berita dan waspada pada apa yang akan terjadi pada hari atau minggu ini menurut kalender forex.

Terakhir, tak jauh berbeda dengan trading range, adalah keputusan yang bijak untuk melompat pada level kunci support dan resistance yang lain. Kita mungkin berpikir R1 tertembus, tapi gagal menyadari bahwa level resistance yang kuat baru saja melewati R1. Harga bisa saja bergerak menembus dan melewati R1, menguji level resistance kemudian anjlok.

Incoming search terms:

  • strategi hardforex
  • teknik hardforex
  • cara menggunakan pivot point
  • strategi trading dengan pivot point

Dapatkan Update BELAJAR FOREX melalui Email:

Leave a Reply

test aja

Belajar Dasar Forex

Anda mungkin juga ingin membacaclose